ban fdr, ban motor, fdrtire, ban sepeda motor

Selain ban cepat botak, kecerobohan ini juga sebabkan ban cepat rusak

27 April 2017

Seperti sempat disinggung di artikel sebelumnya, salah satu faktor pemicu ban cepat aus atau botak itu karena kecerobohan pemilik motor itu sendiri, baik yang sengaja dilakukan atau tidak. Kalau kita sering cuek merawat ban bukan cuma menyebabkan ban cepat gundul, tapi ada dampak lainnya juga. Wah, apa kebiasaan apa lagi yang bisa sebabkan ban rusak? 


Tekanan Angin Tak Sesuai 

Dalam proses kerjanya, angin di dalam ban bisa berkurang. Untuk itu dianjurkan agar selalu mengecek tekanannya secara berkala. Sesuaikan kebutuhan dan penggunaan motor.  “Untuk ban reguler FDR tekanan anginnya di ban depan 29 +/-2 Psi, ban belakang 33 +/-2 Psi. Tambahkan jika kurang, tapi sebaliknya jangan melebihi batas aman yang ditentukan,” ulas Jimmy Handoyo selaku Technical  Service & Development Dept Head PT Suryaraya Rubberindo Industries produsen ban FDR.   Jimmy.  

Ban yang tekanannya kurang atau malah berlebih, sama-sama punya dampak negatif. Contoh kalau terlalu kempis, tak cuma permukaan ban yang cepat gundul terkikis aspal, tapi berdampak pada kinerja suspensi, ‘bantingannya’ pun ikut keras. “Akhirnya merembet ke komponen lain yang berhubungan dengan roda,” kata Lambo, mekanik bengkel umum Tekupla Motor di kawasan Ciledug, Tangerang, Banten.  Sering pakai motor yang bannya agak kempis, bensin juga bisa ikut boros, lo.  Karena bidang kontak ban ke aspal lebih banyak, bikin tarikan agak berat. 

Lalu, gimana kalau tekanannya kekerasan? “Pastinya, paling terasa ya mengganggu kenyamanan berkendara. Karena ban kan juga berfungsi meredam getaran, akibat efek yang ditimbulkan dari trek yang dilalui,” sambung mekanik berdarah Medan ini. Bahkan menurutnya, bisa saja ban malah meledak, akibat tekanan dan suhu yang ada di dalam ban meningkat. Kalau hal ini terjadi saat melaju di jalanan dan dalam kondisi ngebut, wah... bisa dibayangkan petaka apa yang bakal didapat?


Bawa Barang Overload 

Menurut Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, motor tidak diperuntukkan sebagai alat angkutan umum dan barang. Tapi pada faktanya, ‘si kuda besi’ justru difungsikan seperti itu. Lebih gila lagi, barang yang diangkut pun bukan cuma manusia (dua orang pembonceng), tapi juga bawa barang yang menjulang dan melebihi bobot. “Parahnya bisa lebih dari 100-120 kg, dan itu sudah berikut bobot pengendaranya. Kebayang kan, ban menopang beban seperti apa?” urai Lambo lagi. 

Lagi-lagi, enggak cuma ban yang ‘ngap-ngapan’, pelek dan sokbreker juga ikut ngejerit. “Akhirnya belanja buat kebutuhan motor malah meningkat.  “Misal sil dan oli sokbreker, atau malah sekalian ganti sokbreker yang baru,  karena yang lama sudah tidak bisa berfungsi normal atau jebol,” tukas mekanik berperawakan langsing ini. Sudah pasti, ban juga minta diganti baru, karena sudah botak.


Sering Beraksi Konyol

Dibilang konyol, karena si bikers sebenarnya sudah tau kalau kelakuannya berdampak buruk, tapi masih saja dilakoni. Misal sering ngerem mendadak, dengan tujuan agar bisa merasakan sensasi  efek sliding dan berdecit pada roda. Atau menyalurkan adrenalin serasa freestyler, dengan melakukan burn-out alias membakar ban, yakni dengan cara memelintir grip gas sampai full sambil menarik tuas rem pada roda depan. Sehingga roda belakang pun berputar di tempat. 

Dua aksi itu sih, buat sebagian motormania memang seru. Tapi ingat, ketika hal itu dilakukan di jalan raya, misal aksi ngerem mendadak atau late braking, bukan mustahil diseruduk kendaraan lain di belakang. “Syukur-syukur kalau tidak terpelanting, akibat rem mengunci dan ban kehilangan traksinya. Karena kalau sampai hal itu terjadi, wah gak tau deh, nasibnya kayak apa?” ingat Lambo.

Gitu juga ketika melakukan burn-out. Selain memang usia ban dibikin pendek, bukan mustahil juga ketika nahas datang, motor yang sedang diburn-on kehilangan kontrol dan terlepas dari jangkaun si bikers, malah menabrak orang lain. Apa gak serem, tuh? Niatnya mau gaya, eh malah ngeluarin uang untuk berobat orang lain. “Dipastikan motornya juga rusak dan harus dibetulin di bengkel. Repot, deh. Makanya kalau mau aman, jangan melakukan aksi konyol seperti ini!” tutup Lambo.