6 poin ini, bisa bikin ban motor cepat aus

27 April 2017

Umumnya motormania, pasti pernah mengalami ban motor yang cepat aus (baca: botak). Padahal, usia pemakaiannya pun belum terlalu lama. “Iya pernah ngalamin. Kenapa sih, bisa begitu, ya?” bingung Dimas, pengguna skutik Yamaha Mio Soul 2016. Kenapa bisa begitu? Pastinya, banyak faktor yang memicu alas roda ini berumur pendek. 

Daya tahan ban, jika pemakaian motor dalam kondisi normal,  tentu bisa lama dan panjang. “Umur ban, harusnya sih, bisa sekitar 1-2 tahunan atau 10-15 km. Ini untuk jarak tempuh 20-50 per harinya,” kata Jimmy Handoyo selaku Technical Service & Development Dept Head PT Suryaraya Rubberindo Industries produsen ban FDR. Tapi itu pun dipengaruhi banyak faktor. Sebagai indikatornya, bisa melihat tanda segitiga TWI (tread wear indicator). 

Lalu, bagaimana kalau ternyata permukaan botak sampai ‘plontos’ alias tidak ada alur sama sekali? Dan lebih parahnya, kalau hal itu terjadi hanya dalam waktu beberapa bulan saja. “Pastinya, ada faktor ‘X’ yang memicu ban bisa seperti itu,” lanjut Jimmy, seraya menyebutkan faktor-faktor pendukung yang bisa bikin ban cepat ‘KO’. Di antaranya, sebagai berikut:

1. Kurang Perawatan

Maksudnya adalah, dalam konteks menjaga ban agar dapat berfungsi maksimal. Di antaranya yang perlu diperhatikan adalah kebersihannya. Terlebih setelah melewati permukaan jalan yang notabene kondisinya beragam. Baik itu aspal yang panas akibat terik matahari, berpasir, melibas becek atau genangan yang mungkin saja bercampur zat-zat kimia yang bisa memicu daya tahan material ban jadi berkurang, misal pada sisi elastisitas. 

2. Kebiasaan Buruk

Banyak kebiasaan-kebiasaan buruk bikers yang dapat memicu kondisi permukaan ban jadi cepat gundul. Misal sering berkendara dengan ban yang tekanan anginnya kurang, sehingga bidang kontak dan gesekan ban pada permukaan jalan jadi lebih besar. “Kadang ada juga bikers yang memaksakan bawa barang overload, sehingga ban juga punya tugas berat menumpu beban pada permukaan jalan,” sambung Jimmy sambil menambahkan, kebiasaan jelek lainnya adalah sering memaksa ban bekerja ekstream, contoh mem-burnout ban atau sliding-sliding (ngesot) di aspal dan aksi lainnya yang bisa bikin masa pakai ban lebih pendek dan pastinya ini tak perlu ditiru.     

3. Material Ban 

Setiap produsen ban, tentu punya kiat dan racikan masing-masing dalam menghasilkan produk. Hal itu tentu didasari pula pada segmentasi pasar dan market yang akan dituju. Jadi intinya, semua produk didesain dan dibuat sesuai kebutuhannya, terutama konsennya adalah di segi harga.  “Setiap ban punya spesifikasi tersendiri. Tak cuma desain, tapi juga dari segi material karetnya, material campuran dan lainnya. Komposisinya, sudah pasti gak akan sama antara tipe satu dengan yang lain. Gitu juga merek satu dengan brand yang lain. Alhasil daya tahan pun bisa berbeda-beda pula, terlebih dipicu oleh karakter si pengendaranya juga,” urai Jimmy lagi.

4. Umur Pakai  

Ban diracik dari berbagai material, seperti bahan dasar karet dan material lain sebagai pencampur. Dalam kondisi dan batas waktu tertentu, banyak hal yang membuat struktur material itu berubah. Misal, menjadi agak keras sesuai karakteristik karet. Terutama setelah diproduksi dan didistribusikan ke toko-toko penjual. Makanya, pada ban pun tertera kode produksi dari si karet hitam ini, tertera pada dindingnya. Contoh tertulis: 1318, artinya ban ini diproduksi pada minggu ke-13 di tahun 2018. “Tiap merek dan tipe ban punya ‘masa tayang’ berbeda-beda, tergantung racikan masing-masing. Tapi kalau berkaca pada SNI, untuk batas klaim umur ban tidak lebih dari 2 tahun dari lot produksi,” papar Jimmy.

5. Faktor ‘X’

Kalau ini, umumnya kesalahan yang sering terjadi saat di toko penjual. Karena kalau dari pabriknya, sudah ada SOP tersendiri. Terutama dalam proses penyimpanan dan penataan. Gudang yang sirkulasi udaranya kurang baik (pengap dan panas), juga penyusunan yang asal-asalan dalam waktu yang lama, bisa mempengaruhi struktur dan daya tahan material ban menurun. Misal, karet ban jadi agak mengeras (mengurangi elastisitas karet ban, bahkan retak-retak halus). Kalau tidak teliti membeli dan telanjur dipasang di roda motor, bukan mustahil kalau permukaan ban cepat aus, bahkan bisa meledak atau sobek.  

6. Faktor Pemaksaan

Kalau ini sih, seringnya terjadi di kalangan motormania zaman now.  Pengen tampil keren, motor pun dimodif. Tapi penggunaan ban, tidak disesuaikan kebutuhannya. Bisa banyak faktor yang membuat pemaksaan pemakaian ban bisa terjadi. Salah satunya, sulit menemukan dimensi yang sesuai dengan kondisi motor yang sudah didandani, atau bisa juga memang tidak paham aturannya. Ujung-ujungnya, pakai ban ada yang profilnya kekecilan dan ada juga yang malah terlalu lebar. Repotnya kan kalau motor yang biasa buat kontes malah dipakai harian. Belum lagi kalau ban racing yang soft compound dipaksain buat motor yang dipakai aktivitas wara-wiri.